Menurut Fuad, publik justru lebih banyak menyoroti kontroversi kebijakan yang dibuat Rini seperti misalnya dengan mengangkat komisaris dan direksi perusahaan pelat merah dengan latar belakang politisi.
“Karena ada beberapa orang yang dinilai tidak mumpuni dan cenderung di politisasi. Jadi menurut saya belum ada prestasinya," ujar Fuad di Jakarta, Senin (29/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perempuan. Latar belakangnya profesional independen dan di bawah koordinasi perekonomian," kata Masinton. (Baca: PDIP: Ada Menteri Perempuan Sebut Jokowi Peragu).
Menurutnya, penghinaan yang dilakukan oleh menteri itu berkaitan dengan semakin santernya isu reshuffle yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini. Menteri tersebut diduga Masinton jadi salah satu target perombakan sehingga menyebut Jokowi ragu-ragu.
Lebih Terbuka
Sementara pengamat dari Asosiasi Ekonomi-Politik Indonesia Salamudin Daeng mengatakan bahwa Kementerian BUMN di bawah Rini Soemarno seharusnya lebih terbuka terkait penggunaan anggaran Penyertaan Modal Negara (PMN) yang menghabiskan dana pemerintah Rp 72 triliun.
“Setelah mendapatkan restu suntikan dana dari DPR, kan sampai sekarang juga kita belum lihat langkah-langkah dan programnya BUMN-BUMN itu apa,” katanya.
Hal itulah yang membuat Salamudin menilai sulit bagi pemerintah untuk mengevaluasi kinerja Menteri Rini lantaran cenderung tertutup dari sorotan publik. (gen)