Direktur Keuangan Sritex Allan Moran Severino mengungkapkan, perusahaan tengah menjajaki tawaran kerjasama dengan perusahaan dari Hong Kong, Singapura dan Eropa. Saat ini Sritex masih melakukan kajian atas tawaran tersebut.
"Kami masih pikir-pikir untuk tawaran tersebut. Kalau saya sih lebih cenderung ke penawaran dari Eropa, karena pasarnya lebih jelas dan tidak jauh dari bisnis kami," ungkap Allan dalam paparan publik di Jakarta, Senin (29/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi bukan ritel murni yang langsung ke masyarakat. Kami masih fokus ke seragam institusi. Menurut saya lebih mudah, tidak ribet mencari pasar karena hampir mirip. Nilai kerjasama mungkin sekitar 30 juta euro untuk yang Eropa. Sementara, yang di Hong Kong nilainya lebih besar, mencapai US$ 100 juta," imbuh Allan.
"Pelaksanaan bisa 1-2 tahun lagi. Tapi kami usahakan tandatangan MoU bisa tahun ini," jelasnya.
Bagi Dividen
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) manajemen Sritex memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp 100 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 17,9 persen dari laba bersih 2014 dan Rp 5,378 per saham.
"Untuk ke depannya kami akan terus berusaha sebaik mungkin meningkatkan kinerja sehingga bisa terus membagikan dividen kepada para pemegang saham yang telah setia mendukung kinerja Sritex," ujar Presiden Direktur Sritex Iwan Setiawan di tempat yang sama.
Sepanjang 2014, Sritex mampu mencapai penjualan kotor hingga US$ 555 juta. Dari jumlah tersebut, perseroan mampu meraup laba bersih hingga US$ 45 juta pada tahun lalu.
Guna menopang kinerjanya tahun ini, Sritex tengah menjajaki pasar ekspor baru yang sampai saat ini menyumbang separuh terhadap pendapatan total perseroan. Pengembangan pasar ekspor perlu dilakukan untuk menyiasati pelemahan ekonomi dalam negeri yang terjadi.
Ia menjelaskan, untuk di Kamboja, hal itu berawal dari saran Presiden Jokowi yang menyatakan potensi penggarapan seragam militer negara tersebut. Ia mengungkapkan, pihak Kamboja juga tertarik dan cukup serius.
"Menteri Dalam Negeri Kamboja juga sudah menyempatkan mendatangi pabrik kami," ungkapnya.
Dalam rangka memperluas jaringan pelanggan internasional, Sritex berencana menambah lima negara baru sebagai tujuan ekspor. Saat ini, Sritex telah menjangkau 55 negara yang tersebar di area Eropa, Amerika Serikat, Afrika, Timur Tengah, dan Asia Pasifik.
"Ke depan, kami berharap pasar ekspor bisa sampai ke level 55 persen. Hal itu bisa menanggulangi kondisi dalam negeri yang saat ini kurang bagus," jelasnya.
Seperti diketahui tahun ini, perusahaan pembuat seragam pasukan North Atlantic Treaty Organization (NATO) tersebut membidik penjualan kotor senilai US$ 594 juta-US$ 611 juta. Perseroan menargetkan laba komprehensif bersih senilai US$ 49-US$ 52 juta di 2015.