“Target tahun ini US$ 1,7 miliar dolar tapi Kementerian BUMN meminta target US$ 2 miliar. Walaupun pada dua bulan pertama sempat minus, tapi pada Maret, April, Mei sudah menunjukkan positif sehingga laba kumulatif kita sudah mencetak US$ 480 juta,” ujar Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman dikutip dari laman Pertamina, Selasa (30/6).
Menurut mantan Presiden Direktur PT McKinsey Indonesia itu, harga minyak yang rendah diperkirakan masih akan berlanjut dalam 2-3 tahun ke depan. Sementara, Pertamina terbentur pada penetapan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang tidak bisa fleksibel mengikuti harga pasar karena Pemerintah yang berwenang memutuskan harga BBM jenis premium, solar, dan minyak tanah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, jika proyek Pertamina di sektor hulu maupun hilir migas bisa selesai tepat waktu maka perseroan tidak memiliki kewajiban untuk membayar tambahan bunga pinjaman atas proyek tersebut.
Sementara Rony Gunawan, mantan Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) yang kini menjadi bos PT Pertamina EP mengungkapkan keberhasilannya tahun lalu yang berhasil menorehkan laba sebesar 125 persen dari target atau hampir US$ 87 juta dari target laba yang telah ditetapkan US$ 69 juta.
Oleh karena itu untuk menambah kapasitas maka PGE mempercepat proyek-proyek, salah satunya Kamojang 5 selesai dalam jangka waktu 5 bulan sehingga bisa menjadi penopang pertumbuhan pendapatan tahun ini.
“Sumur-sumur yang tidak hidup kami hidupkan kembali sehingga bisa menambah pemasukan uang. Jika revenue tidak bisa dipertahankan minimal bisa melakukan efisiensi,” tambah Rony. (gen)