Apabila rata-rata per bulan penumpang Cipaganti berkisar 17 ribu sampai 19 ribu orang, maka selama H-10 hingga H+10 lebaran tahun ini diprediksi melonjak jadi 23.750 penumpang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, lanjut Leonard, pihaknya optimistis periode arus mudik dan arus balik Lebaran bakal memberi kontribusi positif bagi kinerja perusahaan, baik di divisi shuttle maupun rental.
Leonard menjelaskan, dalam bulan-bulan biasa, jumlah penumpang bisa berada di kisaran 17.000-19.000 orang. Namun, pada musim arus mudik dan arus balik Lebaran, jumlah tersebut bisa naik 25 persen hingga 23.750.
Terkait kesiapan armada dengan adanya lonjakan tersebut, Leonard menyatakan pihaknya menyiapkan beberapa langkah. Antara lain melakukan penukaran armada dengan bus berukuran medium jika jumlah unit yang tersedia tidak cukup untuk menampung penumpang.
"Kami juga menyiapkan bus ukuran besar dengan kapasitas 47-59 penumpang untuk shuttle. Apalagi sekarang porsi pendapatan terbesar masih dari divisi shuttle. Bisa mencapai 40 persen," lanjutnya.
Cipaganti Merugi
Sebagai informasi, pada 2014 Cipaganti mengalami kerugian sebesar Rp 224,91 miliar, melonjak 946 persen dari rugi tahun sebelumnya Rp 21,49 miliar.
Kerugian tersebut terjadi akibat beban usaha yang melampaui pendapatan. Cipaganti tercatat menorehkan pendapatan usaha sebesar Rp 490,59 miliar atau turun 25,75 persen dari perolehan tahun sebelumnya Rp 660,76 miliar. Sementara itu, beban pokok perseroan meningkat jadi Rp 522,93 miliar dibandingkan 2013 yang sebesar Rp 430,48 miliar.