"Dibandingkan tahun lalu memang ada peningkatan sedikit. Tahun lalu sekitar 11- 12 lembar per satu juta (rasio peredaran uang palsunya)," ujar Deputi Gubernur BI Ronald Waas saat mengunjungi lokasi pelayanan penukaran uang kecil di Lapangan Lenggang, Kawasan Monas, Senin (6/7).
Menurut Ronald, kenaikan rasio tersebut selaras dengan meningkatnya temuan uang palsu yang belum beredar di masyarakat atau masih ada di tangan pengedar. Penangkapan tersebut merupakan hasil kerjasama Bank Indonesia dengan aparat kepolisian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ronald mengungkapkan pada umumnya pecahan uang yang dipalsukan adalah yang bernilai besar atau yang nominalnya di atas Rp 20 ribu. Kendati demikian, tingkat kepalsuan uang palsu yang beredar tersebut masih mudah dikenali oleh masyarakat dengan cara dilihat, diraba, dan diterawang (3D).
“Keuntungan (menukar uang di tempat resmi) akan jauh lebih banyak. Pertama, keuntungan mendapatkan uang palsu pasti lebih kecil. Kedua, tidak dikenakan bayaran kalau di tempat penukaran liar pasti dikenakan bayaran,” ujarnya.
BI sendiri memperkirakan selama bulan Ramadhan hingga hari Raya Idul Fitri tahun ini kebutuhan uang tunai di masyarakat ada di kisaran Rp 119,1 triliun hingga Rp 125,2 triliun. (ags/gen)