"Ada sedikit kontraksi sekitar 15 persen pada semester I tahun ini," ujar Direktur Garuda Metalindo, Ervin Wijaya usai pencatatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia, Selasa (7/7).
Menurut Ervin, porsi penjualan perseroan ke mancanegara saat ini sekitar 2-3 persen dari total penjualan. Dalam jangka panjang, porsi ekspor diupayakan naik guna menanggulangi pelemahan pasar dalam negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada semester II, Ervin berharap situasi ekonomi membaik sehingga berimbas positif kepada kinerja perseroan. Untuk itu, pemerintah diharapkan bisa memberikan stimulus ekonomi dengan memaksimalkan penyerapan anggaran belanjanya.
Sayangnya, Elvin enggan membeberkan kinerja perusahaannya lebih rinci. Dia hanya berharap penjualan tahun ini tidak lebih rendah dari tahun lalu.
"Paling tidak penjualan bisa sama dengan tahun lalu, di kisaran Rp 900 miliar sampai Rp 1 triliun," jelasnya.
Sementara dari sisi pengeluaran, Ervin menuturkan Garuda Metalindo menyiapkan anggaran sekitar Rp 50 miliar hingga Rp 60 miliar untuk belanja modal. Dana tersebut rencananya bakal digunakan untuk modernisasi pabrik perseroan melalui skema otomatisasi atau pembelian mesin.
"Kami akan lakukan modernisasi, tujuannya untuk meningkatkan efisiensi. Dengan hal tersebut, akan ada pengurangan human resource," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Garuda Metalindo, Hendra Widjaja menyinggung kebijakan pelonggaran aturan kredit kendaraan bermotor, terutama menyangkut keringanan uang muka.
Dia menilai seharusnya kebijakan tersebut berdampak positif terhadap kinerja perusahaan kendati baru akan terasa pada tahun depan.
"Kebijakan pelonggaran uang muka kendaraan bakal positif untuk kami, namun untuk tahun ini belum signifikan karena belum kelihatan. Mungkin dalam enam bulan mulai terlihat efeknya," jelas