Ia mengatakan pemerintah sangat terbuka dengan berbagai masukan prediksi pertumbuhan ekonomi dari berbagai pihak.
"Di meja saya ada 50 masukan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. Ada banyak variasi disana. Tapi konsensusnya, BI perkirakan 5-5,4 persen, IMF 4,7 persen, Bank Dunia 4,7 persen, ADB 5 persen, pemerintah 5,2 persen. Kami sudah umumkan resmi. Banyak proyeksi dan kami terima saja," ujar Suahasil di Jakarta, Rabu (8/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai dalam tahun pertama pemerintahan, sejumlah kementerian dan lembaga harus mengalami bongkar pasang struktur kelembagaan sehingga eksekusi anggaran baru bisa dilakukan pada akhir kuartal I.
Tetap Optimistis
Kendati demikian, pemerintah tetap optimistis memasang target pertumbuhan di angka 5,2 persen hingga akhir tahun. Suahasil mengaku dirinya masih melihat ada rasa optimisme dari para pelaku pasar dan investor.
Menurut Suahasil, jika dilihat dari perspektif internasional, kenaikan peringkat kredit yang diberikan oleh pemeringkat internasional Standard and Poor’s (S&P) dari Stable menjadi Positive Outlook menjadi bukti perekonomian Indonesia masih menjadi incaran investor.
Manfaat langsung dari pelebaran ruang fiskal akibat adanya pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM) memang belum bisa dinikmati dalam jangka pendek. Menurut Suahasil, manfaat tersebut bisa dirasakan setelah program pembangunan secara bertahap terselesaikan.
"Manfaatnya masih ada di depan, kami berani katakan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen di 2015. Kami akan bekerja keras untuk mewujudkan. Kami harus segera laksanakan anggaran," ujarnya. (gen)