"Saat ini tingkat konsumsi masyarakat menurun karena inflasi yang tinggi. Perlambatan konsumsi rumah tangga menurunkan tingkat kepercayaan konsumen," ujarnya dalam pidato pembukaan Silaturahim ISEI dengan Presiden Joko Widodo di Jakarta, Kamis (9/7).
Ia menjelaskan hal itu terlihat dari menurunnya pertumbuhan penjualan semen, kendaraan bermotor dan kredit konsumsi. Ia mengungkapkan, indeks produksi manufaktur dan impor barang modal pun ikut tergerus turun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Darmin juga mengkritik target pajak yang tinggi karena dinilai menjadi kontra produktif di tengah perekonomian yang melambat. Ia menambahkan, rendahnya penerimaan pajak membuat ketidakpastian bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015.
Menurut mantan Direktur Jenderal Pajak tersebut, hingga semester I 2015 pengumpulan pajak jauh meleset dari target yang ditetapkan. Meskipun Direktorat Jenderal Pajak telah mengupayakan berbagai inisiatif baru untuk menggenjot penerimaan.
"Namun sering berubah-ubah dan terkesan belum dikaji serta dipersiapkan secara matang. Hal ini terjadi karena keinginan untuk mencapai target yang ambisius dalam waktu singkat tetapi kurang persiapan sehingga terasa malah mengganggu kegiatan dunia usaha," kata Darmin.
Menyusutnya penerimaan dikarenakan belum optimalnya kinerja sektor perpajakan maupun non-pajak. Dari sisi perpajakan, kendati nominalnya diprediksi naik hampir 3 persen dari realisasi semester I 2014 atau mencapai Rp 555,2 triliun, namun secara persentase realisasinya baru sekitar 37,3 persen dari target Rp 1.489,3 triliun.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) lebih menyedihkan, di mana realisasinya hingga Juni 2015 hanya sebesar Rp 142 triliun atau turun 17,5 persen dari realisasi periode yang sama tahun lalu Rp 712,7 triliun. (gen)