Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan dalam waktu satu tahun terakhir perkembangan pasar modal China sangat pesat. Oleh karena itu Agus menilai sangat wajar jika terjadi koreksi seperti yang dialami saat ini.
"Kemudian pemerintah China memberi respons dengan menyediakan likuiditas, itu bentuk kebijakan fiskal yang dilakukan. Tapi mereka juga mewajibkan para investor memegang sahamnya minimal enam bulan dan itu tidak market friendly. Pasti akan mendapat respons lanjutan dari pelaku pasar," ujar Agus di Jakarta, Kamis (9/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain itu ada kekhawatiran, dunia usaha China akan terdampak dan mempengaruhi mitra kerja utama. Hal itu berdampak ke manufaktur karena berdampak ke aset rumah tangga, institusi dan korporasi. Kalau berdampak ke perdagangan maka Indonesia bisa terkena imbas," jelasnya.
Menurut Bespoke Investment Group, pasar saham China kini kehilangan US$ 3,25 triliun. Jika dibandingkan, nilai tersebut lebih dari ukuran seluruh pasar saham Perancis dan sekitar 60 persen dari pasar Jepang. (gen)