“Saya rasa program ekonominya belum tepat sasaran dan kurang cepat mengeksekusi. Dalam situasi seperti sekarang ini kita sangat perlu kecepatan dan ketepatan. Karena seperti orang sakit panas, kalau misalnya obatnya kelamaan, bisa sampai 39 derajat misalnya. Bisa step (kejang),” ujarnya saat bersilaturahmi di rumah dinas Menteri Perindustrian (Menperin) di kompleks Widya Chandra, Jakarta, Jumat (17/7).
Ketua Umum DPP Partai Persatuan Indonesia (Perindo) ini menjelaskan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini sudah tidak seperti dulu. Menurutnya, pada tahun 70-an Indonesia memperoleh topangan ekonomi dari booming harga minyak. Sebagai negara pengekspor minyak, lanjutnya, Indonesia diuntungkan karena harga minyak waktu itu tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, lanjut Hary, sekarang Indonesia mengjadi pengimpor minyak. Menurutnya, dengan nilai tukar rupiah yang mahal, maka menjadi hal yang berat. Kemudian, ia menilai Indonesia sudah bergeser dari ekonomi berbasis produksi ke konsumsi, sehingga basis manufaktur tidak kuat dalam menopang ekonomi.
"Baseline pertumbuhan ekonomi direvisi turun. Ini menurun cukup ekstrim dari yang kami prediksi Maret lalu," ujar Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Ndiame Diop di Jakarta, belum lama ini.
Diop menuturkan pertumbuhan 4,7 persen di kuartal I lalu merupakan tingkat pertumbuhan paling lambat sejak 2009. Setelah itu, lanjutnya, Indonesia masih mengalami tekanan dari sisi konsumsi rumah tangga maupun pemerintah. (gir/gir)