"Memang inflasi bulan Juli akan lebih besar dibandingkan bulan Juni, tapi itu murni karena kenaikan bahan pokok. Tahun ini sepertinya kita tak akan merasakan inflasi di barang sekunder, khususnya sandang dan elektronik, karena melemahnya daya beli masyarakat," ujar Direktur Indef, Enny Sri Hartati kepada CNN Indonesia, Senin (20/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat kenaikan bahan pokok tersebut, Enny memprediksi inflasi Juli akan berada di kisaran 0,8 pesen hingga 1 persen. Angka tersebut naik sedikit dibandingkan dengan inflasi Juni yang sebesar 0,54 persen.
"Menurut pantauan kami, beberapa bahan pangan naik seperti cabai dan telur. Bahkan ada yang naik sampai dua kali lipat seperti daging sapi. Transportasi juga naiknya 100 persen, ditambah lagi dengan tahun ajaran baru yang berdekatan dengan lebaran, itu semua akan berdampak pada laju inflasi bulan Juli," jelasnya.
Kendati demikian, Enny tak menjabarkan lebih jauh mengenai proporsi masing-masing kontributor tersebut dalam membentuk inflasi secara keseluruhan. "Proporsinya masih belum bisa terlihat," katanya.
Selain itu, melemahnya daya beli masyarakat saat lebaran ini pun diyakini tidak bisa membantu akumulasi pertumbuhan konsumsi rumah tangga hingga akhir tahun. Enny mengatakan, hingga akhir tahun pertumbuhan konsumsi diperkirakan akan sebesar 5,1 persen atau sama dengan angka di triwulan I 2015.
"Kalau melihat kondisi seperti ini, rasanya sulit juga untuk kembali ke pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,5 seperti tahun lalu," tutur Enny.
Pernyataan Enny tersebut melengkapi data Bank Indonesia yang juga memperlihatkan adanya penurunan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), dari sebesar 122,9 poin pada Mei 2015 menjadi 122,4 poin pada Juni lalu. Dengan kata lain, konsumen pun juga pesimistis bahwa konsumsi rumah tangga bisa meningkat di periode-periode berikutnya.
Sebagai informasi, Indonesia sempat mengalami deflasi month-to-month pada Januari sebesar 0,24 persen dan 0,36 persen di Februari. Adanya fakta ini kemudian diikuti oleh penurunan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin, dari 7,75 persen ke 7,5 persen; serta penurunan suku bunga fasilitas deposito dari 5,75 persen menjadi 5,5 persen pada Februari.
Inflasi kemudian terjadi pada Maret sebesar 0,17 persen, yang dipicu oleh kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan ongkos transportasi. Kemudian laju inflasi bulanan meningkat pada bulan April, Mei, dan Juni dengan nilai masing-masing sebesar 0,36 persen, 0,5 persen, dan 0,54 persen. (ags)