Sekretaris Jenderal ACEA, Erik Jonnaert menjelaskan tahun lalu merupakan titik balik positif bagi industri otomotif di Eropa. Dengan total penjualan 12,6 juta mobil penumpang, itu menandai pertumbuhan positif perdana sejak krisis keuangan dimulai pada 2007.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meskipun perkiraan positif ini, tetapi kami tidak boleh berpuas diri," ujar Jonnaert dalam situs resmi ACEA, yang dikutp CNN Indonesia, Selasa (21/7).
"Hari ini penjualan mobil Uni Eropa berada di belakang China dan Amerika Serikat, di mana tingkat penjualan mereka sekarang telah pulih ke tingkat sebelum krisis," tuturnya.
"Inilah sebabnya mengapa sekarang lebih penting dari pada sebelumnya untuk memastikan bahwa daya saing industri kita, sebagai salah satu sektor strategis yang paling penting di Eropa, tetap tinggi," tuturnya.
Jonnaert berharap para pembuat kebijakan Eropa dapat menciptakan lingkungan yang mendukung inovasi dan perdagangan internasional. Keduanya dinilai sebagai penggerak utama industri otomotif Eropa untuk bisa bersaing di tingkat global.
Sebagai informasi, ada 17 prinsipal otomotif dunia yang tergabung dalam ACEA, yakni BMW Group, DAF Truk, Daimler, Fiat Chrysler Mobil, Ford Eropa, Hyundai Motor Eropa, Iveco, Jaguar Land Rover, Opel Group, PSA Peugeot Citroën, Renault Group, Toyota Motor Eropa, Volkswagen Group, Volvo Cars, dan Volvo Group.
ACEA mencatat sekitar 12,1 juta orang atau 5,6 persen dari populasi Uni Eropa bekerja di sektor otomotif. Sedikitnya terdapat 3,1 juta jenis pekerjaan di industri otomotif yang mewakili 10,4 persen dari manufaktur Uni Eropa.
Masih dari sumber yang sama, kendaraan bermotor sejauh ini menyumbang pajak sekitar € 396 miliar di 15 negara Uni Erupa (EU15).
Khusus untuk kegiatan riset dan pengembangan (R&D) di bidang otomotif, swasta telah menggelontorkan modal investasi mencapai € 41,5 miliar setiap tahunnya.
Sektor otomotif tercatat memberikan kontribusi signifikan terhadap surplus neraca perdagangan Uni Eropa sebesar € 95,1 miliar. (ags)