"Pada awalnya, kami membangun pabrik ini khusus untuk memenuhi pasar domestik. Tapi melihat pasar yang melemah, mungkin kita akan melakukan ekspor. Hal itu mungkin kita lakukan karena kita kan global player, jaringan kita banyak," ujar Diah Sasanawati, Corporate Communication Manager Holcim Indonesia di Kementerian Perindustrian, Jumat (24/7).
Kendati demikian, ia mengatakan bahwa pelaksanaan ekspor ini bukanlah pilihan utama perusahaan karena Holcim masih berupaya untuk memasarkan hasil produksinya di dalam negeri. Jika memang nantinya pasar domestik tak akan membaik selama lebih dari setahun ke depan, perusahaan akan mengekspor semen ke Filipina dan Vietnam terlebih dahulu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditemui di lokasi yang sama, Direktur Keuangan Holcim, Kent Carson juga mencemaskan kemungkinan terjadinya kelebihan suplai semen Holcim setelah pabrik Tuban II ini selesai. Ia berharap bahwa pelemahan pasar ini bersifat sementara, sehingga pihaknya tak harus melaksanakan ekspor.
Kalaupun Holcim jadi melakukan ekspor, Carson mengatakan bahwa hal tersebut akan menjadi kali kedua perusahaan melaksanakan ekspor. Beberapa tahun yang lalu, perusahaan juga sempat mengekspor semen ke benua Afrika serta Malaysia kendati dalam porsi yang kecil.
"Tapi setelah itu kami tidak pernah ekspor lagi karena semuanya habis untuk memenuhi pasar lokal," tuturnya.
Seperti yang telah diketahui sebelumnya, Asosiasi Semen Indonesia (ASI) merilis data bahwa konsumsi semen nasional pada kuartal I 2015 menurun sebanyak 3,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara total, konsumsi semen domestik turun dari angka 14,08 juta ton pada kuartal pertama 2014 menjadi 13,62 juta ton pada kuartal pertama tahun 2015.
"Siklus bisnis semen memang masih di bawah, tapi semen merupakan industri jangka panjang. Kami memberikan outlook pabrik baru kami ini selama 50 hingga 75 tahun ke depan, semoga di sela-sela itu siklus bisnis semen bisa menanjak lagi," pungkas Carson. (gir/gir)