Berdasarkan laporan keuangan Hero pada Selasa (28/7), sebenarnya pendapatan perseroan kali ini naik 15 persen menjadi Rp 7,48 triliun dari Rp 6,5 triliun pada paruh pertama tahun lalu. Namun, beban pokok juga ikut naik menjadi Rp 5,8 triliun, dari Rp 4,96 triliun.
Dalam hal ini, laba kotor Hero pada paruh pertama masih naik menjadi Rp 1,67 triliun dari laba kotor pada periode yang sama di tahun sebelumnya senilai Rp 1,54 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, beban usaha yang paling terlihat menonjol adalah biaya iklan dan promosi yang naik 67,11 persen menjadi Rp 112,65 miliar, dari Rp 67,41 miliar. Hal itu ditambah munculnya beban biaya waralaba sebesar Rp 14,67 miliar, padahal pada semester I 2014 hal itu tidak ada.
Hal itu membuat pos keuntungannya lainnya secara bersih turun menjadi Rp 88,26 miliar pada paruh pertama tahun ini, dari Rp 119,83 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Belum selesai di situ, beban bunga pinjaman bank Hero pada paruh pertama tahun ini juga melompat hingga 1.078,44 persen menjadi Rp 14,87 miliar. Padahal pada semester I tahun lalu beban bunga pinjaman bank hanya senilai Rp 1,26 miliar.
Akibatnya, Hero harus menderita rugi sebelum pajak penghasilan mencapai Rp 43,87 miliar. Padahal pada semester I tahun lalu, Hero mampu mencetak laba sebelum pajak penghasilan hingga Rp 114,69 miliar.
Kendati pun pada semester I tahun ini tercatat adanya imbalan pajak penghasilan mencapai Rp 12,28 miliar dibandingkan beban pajak penghasilan Rp 19,93 miliar pada tahun lalu, namun hal itu tak mampu mendongkrak kinerja Hero.
Perseroan tetap harus menderita rugi periode berjalan senilai Rp 31,59 miliar pada semester I tahun ini, berbalik dari laba periode berjalan Rp 94,75 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Dari segi aset, per Juni 2015 Hero mencatatkan nilai sebesar Rp 8,96 triliun, naik dari Rp 8,29 triliun pada akhir tahun 2014. Sementara dari sisi liabilitas, Hero mencatatkan nilai Rp 3,54 triliun. Adapun jumlah ekuitas mencapai Rp 5,42 triliun per Juni 2015.
Sebelumnya, Liliana S Bambang, analis Mandiri Sekuritas menyatakan PT Hero Supermarket Tbk tidak berekspansi sama sekali tahun ini. Untuk beberapa toko, penjualan per transaksi turun signifikan.
“Peritel lain juga melambatkan ekspansinya. Hanya Matahari Department Store dan Hypermart yang masih agresif berekspansi. Peritel asing, seperti Lotte dan Central juga tidak agresif melakukan ekspansi, tidak seperti beberapa tahun terakhir,” ujarnya dalam riset belum lama ini.