"Dugaan kami (inflasi bulan Juli) ini yang tertinggi. 0,93 persen ini yang tertinggi," tutur Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Senin (3/8).
Menurut Suryamin, momentum bulan Ramadan dan perayaan Idul Fitri biasanya merupakan waktu di mana puncak inflasi terbesar terjadi. Hal itu tercermin dari tingginya pengeluaran untuk bahan makanan dan transportasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan memiliki kontribusi sebesar 0,35 dari total inflasi Juli dengan tingkat kenaikan harga mencapai 1,74 persen.
"Andil tarif angkutan udara itu 0,2 persen (terhadap inflasi Juli), bandingkan dengan 0,93 persen (besaran inflasi Juli), sudah berapa persen?” kata Suryamin.
Selain karena periode lebaran telah lewat, Suryamin juga yakin puncak inflasi tahun ini jatuh di bulan Juli mengingat peningkatan kebutuhan karena periode tahun ajaran baru bagi Sekolah Dasar (SD) juga sudah tercakup di bulan Juli. Sedangkan pengaruh masuknya tahun ajaran baru untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Perguruan Tinggi, menurut Suryamin, dampaknya tidak terlalu besar pada inflasi.
“Jadi kebutuhan-kebutuhan vital lainnya, yang biasanya hentakannya kencang untuk menaikkan harga, sudah tidak ada,” tutur Suryamin. (gen)