“Hingga semester I tahun ini belanja modal yang dikeluarkan sudah Rp 1,6 triliun. Sebesar Rp 1,1 triliun (diantaranya) digunakan untuk pembangunan pabrik di Citeureup dengan kapasitas 4,4 juta ton per tahun tersebut,” Direktur Utama Indocement Christian Kartawijaya di Jakarta, Senin (3/8).
Meski urung sesuai target, Christian bilang dirinya optimistis serapan capex perusahaan tahun ini akan membaik seiring dengan meningkatkan permintaan semen di pasar domestik pada semester II. Selain proyek yang diusung swasta, katanya bakal optimalnya penyerapan Capex juga tak lepas dari dimulainya proyek-proyek infrastruktur yang digalakkan pemerintahan Jokowi. Berangkat dari hal tersebut, jajarannya pun bakal berfokus pada penyelesaian pabrik dengan kapasitas 4,4 juta ton per tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain berfokus pada penyelesaian pabrik semen di Citereup, Christian mengatakan perseroan juga akan meneruskan studi kelayakan terhadap proses awal pembangunan dua pabrik dengan kapasitas produksi masing-masing 2, juta ton per tahun. Disamping Indocement juga akan menyelesaikan mekanisme perijinan yang dibutuhkan untuk membangun dua pabrik semen barunya (green field).
Penjualan melambat
Seiring dengan masih sepinya proyek infrastruktur di Indonesia, Corporate Secretary Indocement, Pigo Pramusakti mengatakan volume penjualan Indocement di pasar domestik hingga semester I 2015 baru berkisar 8,2 juta ton. Jika dibandingkan dengan realisasi penjualan pada periode yang sama tahun lalu di angka 9 juta ton, itu artinya volume penjualan semen perseroan turun sebesar 8,1 persen.
“Penurunan ini sejalan dengan permintaan semen nasional yang juga turun 4 persen, sehingga pangsa pasar menurun dari 30,5 persen di semester I 2014 menjadi 29,1 persen pada paruh pertama 2015,” jelas Pigo.
Meski penjualan semen domestik melambat, kata Pigo volume penjualan semen dan clinker perseroan untuk pasar ekspor diketahui meningkat sebesar 72,5 persen. Ini ditandai dengan angka penjualan semen Indocement yang pada semester I 2015 kemarin telah mencapai 73,2 ton dari capaian penjualan semester I 2014 di angka 42,4 ribu ton.
Walau begitu, ia tak berkilah bahwa secara total angka penjualan semen perseroan tetap menunjukkan tren pelemahan.
“Total volume penjualan perseroan pada semester I 2015 menurun 7,7 persen menjadi 8,3 juta ton, dari 9 juta ton pada paruh pertama 2014,” jelas Pigo.
Menanggapi kinerja perseroan di kuartal I 2015, analis Mandiri Sekuritas, Yudha Gautama menyatakan laba bersih Indocement sebesar Rp2,3 triliun di semester I 2015 tersebut telah mewakili 45 persen dari target laba bersih konsensus sepanjang tahun ini.
“Saat ini Indocement tetap menjadi pilihan kami karena cadangan kas yang besar dan dividen yield yang menarik,” ujar Yudha dalam riset yang dikutip Senin (3/8).