Analis Mandiri Sekuritas Ariyanto Kurniawan menilai laba bersih Telkom tersebut tertekan biaya pemeliharaan yang lebih tinggi yang harus dibayarkan di paruh pertama tahun ini.
“Selain itu biaya program pensiun dini Telkom juga tercatat lebih tinggi,” jelas Ariyanto dalam riset, Senin (3/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara rinci pendapatan lini bisnis itu melonjak 61,34 persen secara tahunan, diikuti jumlah pendapatan data internet, dan jasa teknologi informasi yang bertumbuh 20,48 persen dari tahun sebelumnya.
Sementara itu, pendapatan dari bisnis jaringan melemah 18,4 persen secara tahunan, pendapatan interkoneksi turun 6,05 persen, serta pendapatan telepon menurun 4,85 persen dari tahun sebelumnya.
Tukar Guling Mitratel
Terkait tukar guling saham PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel), Ariyanto menyatakan Telkom saat ini tengah dalam proses mengakhiri Conditional Sales Purchase Agreement (CSPA) dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk karena permintaan komisaris untuk mengakhiri transaksi.
Di sisi lain, lanjutnya, Telkom baru-baru mengindikasikan rencana untuk membangun total 2 ribu menara di tahun ini: 1.000 menara makro dan 1.000 menara mikro. Pada Juni 2015, perusahaan memiliki 6.260 menara, meningkat dari 5.473 menara di bulan Desember 2014.
Sebelumnya, Komisaris Utama Telkom Hendri Saparini menegaskan Dewan Komisaris Telkom telah menolak rencana tukar guling saham (share swap) Mitratel, anak usaha Telkom dengan Tower Bersama.
"Kalau dari (Dewan) Komisaris sebenarnya berdasarkan surat dari Direksi kami sudah menghentikan (transaksi) tersebut sejak 7 Januari 2015," tutur Hendri belum lama ini.
Ekonom dari Center of Reform in Economics (Core) itu menilai bisnis menara telekomunikasi (tower) bagi Telkom masih menguntungkan sehingga tidak ada alasan untuk melakukan transaksi share swap tersebut. (gen)