Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan efisiensi beban ini diharapkan mampu mengimbangi kerugian akibat penetapan harga jual BBM jenis premium yang di bawah harga keekonomian.
"Perhatian pemerintah ingin memperkuat daya beli masyarakat, membuat harga penjualannya tidak bisa mengikuti formula. Kami konsentrasi melakukan efisiensi lewat breakthrough project sebagai tumpuan memperoleh laba," ujar Dwi di kantornya, Jakarta, Rabu (5/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dwi menjelaskan, Pertamina menargetkan efisiensi breakthrough project sebesar US$ 500,42 juta hingga akhir tahun 2015. Sepanjang semester I 2015, efisiensi yang dilakukan oleh Pertamina telah mencapai US$ 249,16 juta atau 49,79 persen dari target efisiensi.
"Bahkan pada kuartal II 2015, biaya pokok produksi kilang Pertamina menyentuh angka di bawah 100 persen terhadap harga impor," tegas Dwi tanpa memberi detil lebih lanjut.
Melengkapi ucapan Dwi, Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan bahwa efisiensi yang dilakukan oleh Pertamina di semester I 2015 melebihi target yang ditetapkan perusahaan pada awal tahun. Sebelumnya, perusahaan menargetkan efisiensi sebesar US$ 241,30 juta hingga pertengahan tahun, namun realisasi yang terjadi, perusahaan ternyata mampu melakukan efisiensi lebih besar 3,26 persen dari target.
"Untuk efisiensi breakthrough project untungnya kami masih on track. Bahkan efisiensi yang kami lakukan melebihi target semula, sehingga kami optimistis bisa mencapai efisiensi sesuai target di akhir tahun nanti," terang Arief.
Arief merinci, efisiensi yang paling besar dilakukan perusahaan adalah pembenahan tata kelola arus minyak (PTKAM) dimana perusahaan berhasil menghemat US$ 107,94 juta, atau 43,32 persen dari total efisiensi. Namun, efisiensi pada manajemen arus kas merupakan efisiensi paling optimal dimana perusahaan berhasil melakukan efisiensi sebesar US$ 11,89 juta pada semester I tahun ini, atau di atas target awal US$ 7,34 juta.
Sepanjang semester II ke depan, perusahaan berharap bisa menambah efisiensi dan bisa menggenjot pendapatan yang berasal dari carry over pembayaran kontrak dan piutang baik dari mitra kerjanya maupun pemerintah. Mantan Presiden Direktur PT McKinsey Indonesia menyebut, dari carry over piutang pemerintah saja Pertamina masih memiliki potensi menambah pendapatan Rp 45 triliun sampai akhir tahun ini.
(gir/gen)