Bambang menyebutkan pencapaian penerimaan negara sampai akhir bulan lalu memang masih di bawah periode yang sama tahun lalu yang mencapai 50,2 persen, hal itu dikarenakan adanya penurunan drastis penerimaan dari Penerimaan Negara Bukan Pajak minyak dan gas (PNBP Migas).
"PNBP tahun ini berbeda dengan periode tersebut apalagi dengan melemahnya harga komoditas seperti batubara," kata Bambang di kantornya, Jakarta, kemarin malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pajak yang bermasalah PPN, makanya kami tidak bisa mengejar minimal sama dengan tahun lalu Rp 205 triliun. Sementara dari bea Keluar jelas di bawah target karena dampak dari rendahnya ekspor tambang dan harga komoditas," ujar Bambang.
"Penerimaan negara masih harus berkejaran dengan belanja. Tapi cash flow terjaga supaya tidak terganggu dengan mempercepat belanja," terangnya.
Rincian belanjanya antara lain, belanja pemerintah pusat K/L Rp 261 triliun dan non K/L Rp 263,1 triliun, seperti pembayaran bunga utang Rp 69,4 triliun, subsidi Rp 105,8 triliun (subsidi energi Rp 74,4 triliun dan non energi Rp 31,5 triliun), belanja hibah Rp 2 triliun dan belanja lain-lain Rp 1,4 triliun. Belanja pegawai Rp 102,9 triliun, belanja barang Rp 70,3 triliun, belanja modal Rp 35,6 triliun dan bantuan sosial Rp 49,2 triliun.
Realisasi belanja pegawai dan bansos sampai Juli lebih tinggi dari tahun sebelumnya karena pembayaran gaji dan tunjangan ke-13 serta pelaksanaan program simpanan keluarga sejahtera melalui Kartu Keluarga Sejahtera. (gen)