Seperti dijelaskan oleh Direktur Utama SMF Raharjo Adisusanto, perusahaannya mulai akan mengkaji revisi target pembiayaan pada Agustus ini. Jika nantinya perusahaan jadi merevisi target, maka secepatnya hal itu disampaikan ke pemerintah sebagai pemilik saham utama.
"Saya harus bicara apa adanya, kondisi makroekonomi pemerintah realisasinya di bawah target. Perbankan juga merevisi target, dan hasilnya realisasinya di bawah target. Industri properti juga slow down. Kalau melihat fakta, kami mengkaji untuk merevisi target," jelas Raharjo di Jakarta, Kamis (6/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun hingga semester I 2015, perusahaan baru bisa membukukan Rp 1,62 triliun atau 47 persen dari target pembiayaan. Kendati penyaluran pembiayaan tak mencapai setengah dari target pada semester I, Raharjo berharap bisa menambah penyaluran di semester berikutnya.
"Pada semester II, penyaluran kredit umumnya lebih tinggi dari semester I. Memang pembagiannya tak bisa dibagi dua dalam setahun. Secara siklus memang begitu, akan heavy di semester II," jelasnya.
Minimal 85,7 Persen
Kalaupun jadi direvisi, Raharjo berharap penyaluran kredit masih bisa di atas Rp 3 triliun hingga akhir tahun, atau minimal 85,7 persen dari target tahun ini. Selain itu, ia juga memastikan bahwa target laba tak akan direvisi kendati penyaluran pembiayaan akan dikoreksi.
Sebagai informasi, hingga akhir tahun perusahaan menargetkan laba sebesar Rp 199 miliar, atau lebih tinggi 15,02 persen dari realisasi laba tahun lalu yang mencapai Rp 173 miliar. Hingga semester I 2015, perusahaan telah membukukan laba sebesar Rp 133 miliar atau 66,83 persen dari target akhir tahun.
"Pemegang saham kami ingin laba tidak turun. Jadi sebisa mungkin nantinya laba tak turun," jelas Raharjo.
Walaupun akan merevisi target penyaluran pembiayaannya, namun SMF tetap optimis penyaluran pembiayaan tetap berjalan sesuai target karena mitra utamanya PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), mencatatkan pertumbuhan pembiayaan yang melebihi target awalnya.
"Mengingat pencapaian BTN yang di atas target, kami harap tak perlu merevisi target penyaluran pembiayaan karena bank tersebut adalah debitur terbesar kami," katanya.
Sementara Otoritas Jasa Keuangan pada bulan lalu merevisi angka pertumbuhan penyaluran kredit tahun ini dari 16 hingga 17 persen ke angka 13 hingga 15 persen. Sedangkan Bank Indonesia (BI) sendiri memprediksi angka penyaluran kredit sebesar 13 hingga 14 persen hingga akhir tahun ini.