Berdasarkan materi presentasi dalam analyst meeting yang ditandatangani Direktur Alam Sutera Joseph Sanusi Tjong, perseroan sebelumnya mencanangkan total belanja modal pada 2015 mencapai Rp 3 triliun.
Namun karena pelemahan ekonomi, dan beberapa kebijakan yang menghambat penjualan, Alam Sutera merevisi jumlah belanja modal tahun ini menjadi Rp 2,25 triliun. Hal itu berarti perseroan menahan diri untuk melakukan beberapa ekspansi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, dana belanja modal mencapai Rp 3 triliun tersebut bakal dibagi rata masing-masing Rp 1 triliun untuk akuisisi lahan, konstruksi proyek high rise, dan konstruksi proyek low rise.
“Penurunan capex ini memberikan dampak pada pencairan KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Tetapi itu telah kami pertimbangkan dan bukan berarti kami tidak mendapatkan penciran KPR sama sekali, karena pencairan tersebut tetap ada. Sedangkan untuk penurunan capex high rise tidak bisa seperti penurunan low rise, karena itu lebih optimal jika kami menurunkan capex low rise,” jelas manajemen.
Dari sisi asal dana, manajemen Alam Sutera menyatakan selain daripada presales tahun sebelumnya dan tahun ini, dari segi cashflow pihaknya masih melihat bahwa kas perseroan pada akhir tahun akan mencapai kurang lebih Rp 1 triliun.
“Estimasi cash dari previous sales kami sebesar Rp 2 triliun dan setimasi cash dari sales tahun ini adalah Rp 1,8 triliun ditambahkan dengan pendapatan berulang sebanyak Rp 362 miliar dan pencairan pinjaman Hana Bank,” rinci manajemen.
Seperti diketahui, Alam Sutera juga memangkas target pra-penjualan (marketing sales) perseroan hingga 22,41 persen karena melemahnya kinerja yang juga terlihat dari penurunan laba bersih sebagai akibat dari pelemahan ekonomi.
Perseroan sebelumnya menargetkan total marketing sales pada 2015 mencapai Rp 5,8 triliun. Namun karena pelemahan ekonomi, hingga semester I 2015 perseroan baru mencetak marketing sales senilai Rp 1,16 triliun, atau baru 20 persen dari target total. Atas dasar hal tersebut, Alam Sutera merevisi target marketing sales tahun ini menjadi Rp 4,5 triliun.
Penurunan laba bersih seiring dengan melorotnya pendapatan usaha emiten properti ini 12,1 persen dari Rp 1,94 triliun menjadi Rp 1,73 triliun. Hal itu ditambah lagi karena perseroan juga mengalami rugi akibat tekanan kurs sebesar Rp 325,3 miliar. Padahal pada paruh pertama 2014, tercatat laba selisih kurs sebesar Rp 25,9 miliar.