"Karena info yang saya terima, kita punya kekuatan panas bumi sampai mencapai 29.000 MW dan ini kekuatan dan potensi yang besar. Sebab itu kalau perlu dan diperlukan, dibuat BUMN Khusus untuk ini," ujar Jokowi pada saat pembukaan The 4th Indonesia EBTKE Conex 2015 di Jakarta, Rabu (19/8).
Dengan dibentuknya BUMN Khusus panas bumi kelak, Jokowi berharap rencana pemerintah mengurangi pemanfaatan sumber energi fosil ke non-fosil bisa segera terlaksana secara maksimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan berbeda, Sudirman Said, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan wacana pembentukkan BUMN Khusus di sektor panas bumi sudah didiskusikan oleh jajarannya. Pemerintah pun siap memberikan suntikan modal untuk investasi awal dalam hal eksplorasi, studi dan lain-lain.
Wacana pembentukan BUMN khusus panas bumi ini, lanjut Sudirman, juga sudah masuk dalam tahap pembahasan lintas kementerian dan lembaga. Ia pun mengapresiasi sikap Presiden yang sudah mengeluarkan pernyataan ke publik soal rencana strategis tersebut.
Pada kesempatan tersebut, Sudirman Said juga mengungkapkan potensi investasi di sektor pengembangan energi baru terbarukan dan konvensi energi (EBTKE) untuk lim atahun ke depan. Sejauh ini, lanjut Sudirman, komitmen investasi yang sudah terjaring di sektor ini pengembangan listrik ini mencapai Rp 106,3 triliun.
Pembahasan di sektor energi, terutama soal pengadaan listrik, menghangat belakangan ini pasca Rizal Ramli, ekonom kritis yang baru saja dilantik menjadi Menteri Koordinator Bidang Maritim, mengkritik program pembangkit listrik 35 ribu MW yang tengah digenjot pemerintah.
Dia menilai, proyek yang diusung oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla itu terlalu ambisius untuk bisa dicapai dalam lima tahun ke depan. Karenanya, Rizal Ramli bertekad untuk merevisi target pengadaan listrik tersebut agar lebih realistis.