Menurut ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri, perbaikan transaksi perdagangan lebih disebabkan oleh impor yang turun lebih tajam ketimbang penurunan ekspor.
Ia mencatat impor pada Juli 2015 merosot 28,44 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu dan merosot 22,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan impor terjadi baik untuk migas maupun nonmigas, masing-masing sebesar 45,02 persen dan 21,46 persen untuk month-to-month.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dengan kata lain, produk ekspor kita memiliki kandungan impor cukup besar. Porsi impor bahan baku atau bahan penolong dalam impor total mencapai 75,65 persen. Jadi tidak heran kalau ekspor juga turun,” kata Faisal dikutip dari kajiannya, Rabu (19/8).
Perkaya Serangan
Dalam kondisi ekonomi global yang tidak menentu seperti saat ini, Faisal menyatakan cara terbaik untuk membuat neraca perdagangan menjadi benar-benar sehat adalah dengan menggunakan strategi menyerang. Sayangnya, Faisal melihat sejauh ini tampaknya pemerintah cenderung memilih taktik bertahan dengan mengekang impor lewat kuota, larangan, dan menaikkan bea masuk.
Ia mencontohkan, Vietnam telah lebih dulu memilih strategi menyerang dengan ikut dalam kesepakatan Trans Pacific Partnership dan baru saja menandatangani pakta perdagangan bebas dengan Uni Eropa. Tak ayal, penanaman modal asing langsung mengalir deras ke Vietnam.
“Sekarang Vietnam menjadi negara terkemuka dalam ekspor elektronik. Juga mulai bergigi dalam ekspor tekstil dan pakaian jadi. Sebaliknya, ekspor Indonesia untuk kedua barang itu jalan di tempat,” ujar Faisal. (gen)