Toharso, Presiden Direktur Pertamina Retail menjelaskan meskipun terjadi peningkatan, perusahaannya belum dapat memenuhi target pertumbuhan penjualan yang diharapkan. Ia mencontohkan, penjualan bahan bakar minyak (BBM) di SPBU tidak tumbuh sesuai dengan angka penjualan otomotif nasional.
Dalam hitungan Toharso seharusnya dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di atas 10 persen per tahun, mestinya pertumbuhan penjualan BBM juga tumbuh di atas 10 persen. Tetapi kenyataannya untuk mencapai kenaikan penjualan BBM agar dapat mengimbangi pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor dengan jumlah SPBU yang sama, masih belum bisa dicapai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menjaga pertumbuhan penjualan, Pertamina menurutnya harus terus menambah jumlah SPBU baik yang dikelolanya sendiri maupun bekerjasama dengan anggota Hiswana Migas.
Penurunan penjualan dirasakan Pertamina Retail tidak hanya dari bisnis penjualan BBM. Namun juga dari bisnis minimarket Bright store yang selalu menjadi bagian dari SPBU COCO dan beberapa SPBU dealer own dealer operate (DODO).
“Dari sisi non-fuel, kondisinya hampir sama. Kita punya Bright store yang berada di lokasi SPBU COCO dan beberapa DODO, terlihat daya beli masyarakat juga menurun. Sehingga mengakibatkan omzet per gerai berkurang,” keluhnya.
Selama tujuh bulan di 2015, para produsen mobil yang bernaung dalam Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) hanya berhasil membukukan penjualan wholesale sebanyak 581.106 unit. Angka tersebut turun 20,7 persen dibandingkan dengan pencapaian periode yang sama tahun lalu 733.444 unit. (gen)