"Kalau musim kemarau tidak bisa tanam apa-apa, tembakau bisa jadi alternatif ketika tanaman lain tidak bisa ditanam," kata Ketua Umum AMTI Budidoyo ketika ditemui di Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (22/8).
Budidoyo menjelaskan penanaman tembakau dimulai saat musim peralihan antara musim penghujan dan kemarau dan berakhir hingga masa peralihan ke musim penghujan. Selama periode tanam itu, daun tembakau dari satu tanaman tembakau bisa dipanen lima hingga tujuh kali. Apabila dikelola dengan benar dan didukung oleh cuaca yang bagus, produksi per hektar lahan rata-rata bisa mencapai lebih dari 1 ton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, lanjut Budi, jumlah produksi tembakau tahun ini diperkirakan kurang dari 200 ribu ton atau lebih kecil dibandingkan kebutuhan tembakau domestik yang ada di kisaran 300 ribu ton per tahun. Dengan demikian, masih ada ruang bagi petani lokal untuk mengisi kebutuhan industri akan tembakau yang selama ini dipenuhi dengan cara impor.
Selain itu, kualitas pengeringan tembakau juga menjadi lebih bagus karena mendapatkan panas dari sinar matahari yang cukup.
Tak ayal, alih-alih mengadu peruntungan dengan menanam padi dan palawija di lahan miliknya, Winarso lebih memilih menanam tembakau kala musim kemarau tiba. Dengan menanam tembakau, Winarso bisa mengantongi keuntungan bersih hingga Rp 50 juta per hektare.
“Biaya produksi lahan tembakau sekitar Rp 20 juta-an per hektare. Sedangkan pendapatan setiap petani berbeda, kalau saya sekitar Rp 70 juta-an per hektare,” kata Winarso. (gen)