“Apalagi saat ini harga minyak dunia juga sedang murah. Jadi kami minta pemerintah menurunkan harga gas untuk menggerakan industri,” ujar Ketua Koordinator Gas Industri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Ahmad Wijaya di Jakarta, Rabu (26/8).
Seperti yang diketahui, saat ini harga jual gas bumi di Indonesia dilego pada level US$ 8 per million metric british thermal unit (mmbtu) sampai US$ 12 mmbtu. Harga tersebut bisa menembus US$ 16 per mmbtu sampai US$ 18 mmbtu jika gasnya harus lebih dulu melalui proses regasifikasi. Tingginya harga jual telah membuat pelaku industri keberatan membeli gas tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Butuh Agregator
Satu diantaranya ialah wacana pembentukan agregator gas nasional yang berfungsi sebagai badan usaha penyeimbang antara pasokan dan harga gas yang disalurkan ke industri dan masyarakat.
Tak hanya itu, kata Ahmad pemerintah juga harus segera mengintegrasikan kegiatan bisnis hulu dan hilir migas demi menyelaraskan harga gas bumi yang saat ini sangat bervariatif di sejumlah daerah.
“Karena kalau sudah ada penggabungan antara hulu dan hilir tentunya harga pasti turun. Biar nanti kami datang ke Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli, karena sekarang menterinya lebih tegas,” kata Ahmad.
Sementara itu Daniel Purba, Sekretaris Jenderal Indonesia Gas Society (IGS) mengatakan sudah sepatutnya pemerintah segera membentuk agregator gas nasional demi meningkatkan sektor industri nasional yang diyakini akan memberi banyak dampak positif.
“Dorongan untuk merealisasikan agregator gas nasional sebenarnya bukan untuk dukung bisnis perusahaan a, b, atau c. Tapi tujuan yang paling penting adalah bagaimana sumber energi gas bisa dimaksimalkan agar industri bisa terus berkembang dan manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat,” kata Daniel yang juga merupakan Vice Presiden Divisi Pengadaan PT Pertamina (Persero) atau Integrated Supply Chain (ISC). (gen)