Dalam pertemuan yang dipimpin oleh Ketua DPR Setya Novanto itu, Agus menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi mata uang garuda bisa berada di bawah tekanan dolar.
Mantan Menteri Keuangan itu menjelaskan keadaan ekonomi Indonesia penuh ketidakpastian sejak 2008 atau sejak AS mulai mengalami krisis keuangan. Namun bak pisau bermata dua, ternyata kebangkitan AS dari kondisi krisis juga membawa dampak bagi perekonomian global, khususnya negara-negara yang masuk dalam golongan emerging market seperti Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan devaluasi itu mengakibatkan guncangan lagi terhadap seluruh dunia termasuk Indonesia," ujar Agus.
Revisi Pertumbuhan Ekonomi
Pada kesempatan itu Agus juga menyampaikan revisi pertumbuhan ekonomi hasil perkiraan BI untuk tahun ini. Bank sentral menurutnya memprediksi ekonomi Indonesia tahun ini akan tumbuh di kisaran 4,7-5,1 persen atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 5-5,2 persen.
Perlambatan ekonomi global serta rendahnya realisasi anggaran pemerintah pusat dinilai masih menjadi batu sandungan bergeraknya ekonomi Indonesia ke arah yang positif.
"Ini periode bukan salahnya Indonesia. Ini dunia sedang melambat sehingga terdampak," kata Agus. (gen)