Namun upaya tersebut diganjal anggota Komisi VI Dewan Perwakilam Rakyat (DPR) yang meminta AP II memenuhi sejumlah syarat untuk memperoleh persetujuan PMN.
Deputi Bidang Usaha Konstruksi, Sarana, dan Prasarana Perhubungan Kementerian BUMN Pontas Tambunan menjelaskan tambahan modal tersebut akan digunakan untuk mengurai kemacetan di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) Cengkareng Tangerang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kondisi ini menimbulkan kepadatan dan delay," kata Pontas dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Kamis (27/8).
Terlebih mega proyek Terminal 3 Ultimate tak kunjung selesai. Padahal AP II telah menerima PMN sebesar Rp 2 triliun dalam APBNP 2015.
"Kapan Terminal 3 Ultimate bisa soft opening ? Karena kita udah menunggu lama. Manajemen bilang April 2016 sudah selesai, karena kemarin DPR sudah setuju suntik Rp 2 triliun untuk tahun ini. Sehingga PMN itu jadi sia-sia," ujar Farid.
Politisi Fraksi Hanura mengakui AP II memang membutuhkan modal untuk menyeimbangkan meningkatnya kebutuhan perbaikan fasilitas bandara Soetta dengan pertumbuhan jumlah penumpang pesawat. Namun ia menilai rencana bisnis yang diajukan AP II sebagai perusahaan operator bandara terbesar di Asean belum memuaskan.
"Memang PMN ini alternatif terbaik untuk AP II, tapi bukan untuk negara. Berikan kami alasan. Business plan yang mulus. Bagaimana caranya untuk menghindari delay, safety-nya ditingkatkan," katanya. (gen)