Menurut Sekretaris SKK Migas Budi Setyono penetapan EMCL sebagai pemegang hak kuasa jual minyak sejatinya telah mendapat lampu hijau Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yakni Sudirman Said.
“Kami tidak bisa tunjuk sendiri, harus ada arahan Menteri. Pastinya sebelum ditujunjuk, SKK Migas akan mengusulkan dan melaporkan lebih dulu dengan berbagai pertimbangan. Kalau setuju, kemudian ditunjuk,” kata Budi beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Hitungan tim harga itu kan 99,99 persen mendekati harga sebenarnya dengan tolok ukur harga dari pasar minyak. Tapi kenapa formulanya begitu, kalau tidak salah karena di kirim di pipanya siapa gitu. Jadi kan tol fee tidak ada,” tutur Budi.
Berangkat dari fakta tersebut, Pengamat Kebijakan Energi Yusri Usman menilai SKK Migas telah menyalahi aturan di dalam kontrak jual-beli minyak antara EMCL dan TWU.
Tak cuma Yusri, Ketua Komisi VII DPR Kardaya Warnika juga mempertanyakan penggunaan beleid lama dalam menetapkan EMCL sebagai pemegang hak kuasa jual minyak bagian negara.
Selain penggunaan payung hukum, Kardaya bilang sejatinya penunjukkan siapa pemegang hak jual harus melalui proses tender. Ini dimaksudkan agar pemerintah memperoleh harga minyak yang tinggi menyusul adanya penawaran harga tender yang diajukan beberapa perusahaan yang berminat memegang hak kuasa jual.
"Dulu kalau BP Migas aturannya seperti itu. Saya tidak tahu kalau di SKK Migas," ujar mantan Kepala BP Migas tersebut.