Dia menilai ringkihnya struktur ekonomi nasional menjadi penyebab utama gejolak ekonomi saat ini. Menurutnya, jika fundamental perekonomian Indonesia kuat, dengan sendirinya mampu menghalau pengaruh negatif dari luar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demikian pula dengan perekonomian Filipina, lanjut Rizal, saat ini tumbuh 7,2 persen di tengah ketidakpastian ekonomi global, lebih tinggi dari capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Misalnya, ujar Rizal, ketika dia menjabat sebagai Menko Perekonomian di awal tahun 2000-an, pemerintah mengeluarkan izin operasional maskapai baru di industri penerbangan domestik, yang ditandai dengan lahirnya Group Lion Air. Akibatnya, harga tiket pesawat menjadi semakin kompetitif dan jumlah penumpangnya melonjak empat kali lipat dibandingkan saat krisis 1998.
"Itu adalah contoh bagaimana bisa mengubah Indonesia cukup dengan strategi policy tidak perlu utang," ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan perlambatan ekonomi yang terjadi sampai tengah tahun ini sebagian besar dipengaruhi faktor eksternal, yakni kondisi ekonomi global yang masih anjlok.
Kejatuhan rupiah menjadi salah satu indikatornya, di mana menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi) pelemahan kurs sudah berada di luar perkiraan pemerintah.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menyatakan pemerintah dan Bank Indonesia tidak bisa selamanya mengikuti arus ekonomi global yang membawa rupiah tergelincir lebih jauh.
Senada dengan bosnya, Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro di hadapan Badan Anggaran DPR juga menuding faktor eksternal, yang dipicu rencana normalisasi kebijakan moneter AS, sebagai biang keladi kejatuhan rupiah.
Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo sempat menuturkan kondisi ekonomi dan moneter yang berkembang belakangan ini lebih banyak didominasi oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap rencana bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuannya. (ags/gen)