“Jualan (sahamnya) kira-kira awal bulan depan. RUPS-nya 22 September 2015,” kata Direktur Utama Adhi Karya Kiswodarmawan usai menghadiri groundbreaking proyek LRT di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (9/9).
Upaya mencari dana segar tersebut menurut Kiswodarmawan akan ditempuh melalui right issue Rp 2,75 triliun. Dari jumlah tersebut, pemerintah menyerap saham melalui skema Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 1,4 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan total biaya yang dibutuhkan untuk membangun prasarana LRT adalah Rp 23 trilliun terdiri dari biaya pekerjaan umum (civil works) sebesar Rp 19,157 triliun dan biaya fasilitas operasi sebesar Rp 4,66 triliun.
“Saya berharap nanti rasionya satu banding lima. Satu dari ekuitas Adhi Karya, lima dari loan bank,” kata Kiswodarmawan.
Jika proyek tersebut sudah selesai, nantinya Adhi Karya akan menyerahkan seluruh prasaranan perkeretaapian yang telah dibangun kepada pemerintah untuk menerima pembayaran.
“Setelah dibangun, dalam Perpres disebutkan, (biaya pembangunan LRT) bisa dibayarkan terakhir atau dalam tahapan sesuai dengan prestasinya,” kata Direktur Jenderal Perkeretapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Hermanto Dwiatmoko dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (8/9). (gen)