“Jadi saya mendorong sepenuhnya pemerintah melalui PLN untuk membangun pembangkit sebanyak-banyaknya, jangan dibatasi,” ujar Kurtubi melalui keterangan tertulis, Rabu (9/9).
Sebenarnya, lanjut Kurtubi, Indonesia membutuhkan listrik lebih dari 35 ribu MW untuk bisa menggerakan ekonomi. Dia berharap ketersediaan listrik Indonesia bisa setara dengan negara-negara tetangga agar meningkatkan investasi dan menciptakan kesempatan kerja yang lebih tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merujuk pada data PLN, Kurtubi mengungkapkan konsumsi perkapita listrik Indonesia saat ini sebesar 0,8 MWH. Secara komparatif, besaran itu setara dengan setengah dari konsumsi perkapita Vietnam, sepertiga dari Thailand, seperempat dari rata-rata konsumsi China dan hanya seperlima jika dibandingkan dengan Malaysia.
“Bagaimana Malaysia masuk ke nuklir, sehingga semua investor-investor lari ke Malaysia, pada saat kita masih ribut memikirkan listrik 20 ribu-30 ribu MW,” katanya.
Karenanya, Kurtubi menegaskan bahwa Komisi VII DPR sepaham dengan pemerintah untuk membangun pembangkit listrik 35 ribu MW sesuai desain kebijakan energi nasional yang berlaku, di mana energi nuklir menjadi opsi terakhir.
"Kalau pun itu tak tercapai dalam waktu dekat, bisa dijadikan skema jangka panjang," katanya.
Kalau proyek 35 ribu MW masih tersendat, lanjut Kurtubi, mungkin karena prosedur investasi kurang terbuka atau kurang adil.
"Tak heran jika sebagian orang curiga bahwa proyek-proyek ini larinya ke kelompok bisnis tertentu," katanya.