Seperti dijelaskan oleh Komisaris Independen PT Bank Mandiri, Goei Siauw Hong, tingkat kredit bermasalah (NPL) dan juga rasio kecukupan modal (CAR) industri perbankan terbilang masih aman. Pada tahun itu, NPL industri perbankan berada di angka 53 persen dan CAR berada pada posisi minus 15,7 persen.
"Kendati demikian, saya tak bilang bahwa kini tak terjadi krisis. Memang masih ada krisis finansial akibat indikator perbankan melambat, tapi levelnya tak separah pada tahun 1998. Saya tak bisa komparasi berapa perbandingannya, tapi kondisi kini lebih baik dibandingkan 17 tahun yang lalu," terang Goei ketika ditemui selepas mengisi acara di Malang, Jumat (11/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, ia menilai saat ini indikator makroekonomi masih tetap stabil sehingga pihak perbankan optimis kondisi industri keuangan akan membaik tak lama lagi. Jika pemerintah mau memberikan stimulasi pada daya beli masyarakat, maka hal itu juga akan berpengaruh kepada kinerja industri perbankan juga.
Senada dengan Goei, Direktur Keuangan PT Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo, mengatakan bahwa kondisi makroekonomi Indonesia saat ini masih lebih baik dibanding negara-negara berkembang lainnya, sehingga tidak tepat apabila Indonesia kini masuk ke dalam fase krisis.
Ia mencontohkan, kendati pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga semester I tengah lebih kecil sebesar 8,4 persen, namun hal ini lebih baik dibanding Brazil dan Rusia yang kini tengah mengalami resesi.
"Secara indikator makroekonomi kita masih membaik, jadi saya rasa kita belum masuk ke arah fase seperti itu. Selain itu, kondisi perkreditan kita juga berbeda dengan 1998. Pada tahun itu, pertumbuhan kredit meningkat, tapi tak digunakan untuk fungsi produktifitas," jelasnya.
"Hasilnya pada saat itu penarikan uang besar-besaran dan 16 bank tutup. Tapi untuk saat ini, kami tak melihat kemungkinan akan lebih buruk dari saat itu," jelasnya. (gir/gir)