Oleh sebab itu, Direktur Komersial AP II Faik Fahmi mengaku manajemen sama sekali tidak memiliki intensi untuk membuat harga avtur menjadi tinggi di seluruh bandara yang dikelolanya. Hal seperti itu justru bukan merupakan nilai tambah bagi perusahaan.
Terkait distribusi avtur di bandara, Faik menjelaskan selama ini sudah ada kerjasama throughput fee atau konsesi antara AP II dan Pertamina sebagai penyedia avtur. Biaya throughput ini dibayarkan oleh Pertamina karena fasilitas avtur di bandara seluruhnya yang disediakan oleh AP II sehingga bisa sampai ke pesawat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Lahan di luar dan dalam wilayah bandara atau jalur pipa untuk ke Depot Pengisian Pesawat Udara atau DPPU di dalam bandara
2. Lahan di bandara untuk area tempat penyimpanan atau storage tank avtur sebanyak enam unit.
3. Lahan di bandara untuk jalur pipa distribusi dan pipa distribusi serta Hydran Pit.
“Nilai throughput fee tersebut jelas sangat kecil porsinya apabila dibandingkan dengan harga avtur per liter yang di jual ke maskapai,” kata Faik dikutip dari keterangan pers, Minggu (13/9).
“Biaya throughput di Soekarno-Hatta lebih rendah dibandingkan bandara-bandara internasional lainnya. AP II jelas mendukung tarif avtur yang lebih kompetitif karena hal tersebut dapat mendorong pertumbuhan industri penerbangan nasional khususnya meningkatkan daya saing bandara di dalam negeri dan maskapai nasional," tambah Faik.
Bebas Biaya
Dari 13 bandara yang dikelolanya, AP II menurut Faik masih tidak mengutip biaya throughput di tujuh bandara yaitu Husein Sastranegara Bandung, Supadio Pontianak, Sultan Thaha Jambi, Depati Amir Pangkalpinang, Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang, Silangit Tapanuli Utara, dan Sultan Iskandar Muda Aceh. (gen)