Mengutip Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 62,13 poin atau 0,38 persen ke level 16,370.96, sedangkan Nasdaq Composite minus 16,58 poin atau 0,34 persen menjadi 4,805.76.
Demikian pula dengan S&P 500 yang melemah 8,02 poin atau 0,41 persen menjadi 1,953.03, setelah sembilan dari 10 sektor dominan S&P jatuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, The Fed menyatakan akan menaikkan suku bunga ketika pemulihan ekonomi AS berlanjut dengan indikator angka pengangguran dan inflasi. Namun, jika melihat kondisi AS saat ini pasar tenaga kerja membaik, sedangkan inflasi masih tertekan oleh harga minyak yang melemah.
"Volatilitas di pasar dan data-data ekonomi AS yang bertentangan mmebuat The Fed benar-benar sulit untuk punya pegangan yang kuat untuk memutuskan," kata Spika.
Wall Street relatif lebih stabil sejak China mendevaluasi mata uangnya pada Agustus lalu. Indeks S&P 500, misalnya, telah naik sekitar 1 persen selama lebih dari 10 sesi perdagangan sejak 20 Agustus 2015.
Kendati demikian, perdagangan masih tampak lesu. Merujuk pada data Thomson Reuters, sekitar 5,4 miliar lembar saham telah berpindah tangan di bursa AS dalam sehari. Angka tersebut lebih rendah dari rata-rata 20 sesi perdagangan sebelumnya yang mencapai 8 miliar saham per hari.
Faktor pemberat lainnya adalah data investasi dan industri China pada Agustus lalu yang meleset dari ekspektasi. Hal ini memunculkan kekhawatiran pelaku pasar akan pertumbuhan ekonomi China yang diprediksi tidak sampai 7 persen untuk pertama kalinya sejak krisis global.
"China terus menjadi perhatian karena investor melihat ada risiko pertumbuhan ekonomi China menyentuh level terendah, meskipun pemerintah setempat memiliki banyak ruang untuk merangsang pertumbuhan," kata Chris Bertelsen , kepala investasi dari Global Financial Private Capital di Sarasota, Florida. (ags)