"Kalau saya perhatikan, banyak negara yang juga merasa ketidakpastian di dunia sudah cukup lama dan akan baik kalau seandainya pemegang kebijakan di FOMC (Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral AS) bisa menaikkan (suku bunga) dalam jumlah yang tidak besar, tapi mulai dinaikkan di September," ujarnya di Gedung DPR, Selasa (15/9).
Agus mengatakan, banyak survei ekonomi yang memperkirakan The Fed baru akan mulai menaikkan suku bunga acuannya pada Desember 2015. Namun, Mantan Menteri Keuangan ini meyakini The Fed punya kajian dan basis data yang kuat untuk menentukan posisi suku bunganya agar daya saing ekonomi Negeri Paman Sam terjaga dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Khususnya untuk (stabilisasi) rupiah, menjaga supply and demand valas, dan juga mengelola cadangan devisa kita dengan optimum," tuturnya.
Dewan Gubernur Bank Sentral AS menjadwalkan pertemuan atau Federal Open Market Committee Meeting (FOMC) pada Rabu dan Kamis, 16-17 September 2015. Rapat tertutup tersebut digelar guna membahas dan menentukan tingkat bunga acuan yang yang telah dipertahankan 0 persen selama hampir satu dekade.
FOMC ini terkait erat dengan rencana normalisasi kebijakan moneter AS seiring dengan mulai pulihnya perekonomian Negeri Paman Sam. (ags/gen)