Alumni Universitas Harvard, Amerika Serikat, itu mengatakan pemerintah ingin memberdayakan kembali peran Bulog untuk membangun cadangan strategis bahan pangan. Tidak hanya untuk komoditas beras seperti yang selama ini dijalankan.
“Jadi, andaikata terjadi sesuatu misalnya wabah atau kekeringan atau disrupsi impor maka sudah ada cadangan yang kemudian bisa dilepas dari cold storage seperti ini,” kata Thomas di kantornya, Rabu (16/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Gudangnya itu kira-kira ekuivalen dengan tiga kali lapangan sepakbola,” kata Thomas.
“Layout dan design gudangnya juga sangat efisien. Jadi begitu keluar dari ruangan freezer langsung ada koridor, langsung ada pintu di mana truk bisa masuk,” kata Thomas.
Thomas mengaku sudah membicarakan rencana pembangunan kulkas super besar tersebut bersama Direktur Utama Perusahaan Umum Bulog Djarot Kusumayakti. Keberadaan kulkas besar diharapkan bisa mengurangi volatilitas harga pangan di tanah air baik karena kelebihan maupun kekurangan pasokan di pasar.
“Biasanya begitu panen harga produk anjlok karena over supply. Panen berlimpah-limpah tapi tidak mungkin terserap semua dan akhirnya harga anjlok. Rencana kami panen kemudian masuk storage kemudian baru dilepas dari storage sesuai kebutuhan dalam periode berbulan-bulan sehingga harga tidak anjlok,” kata Thomas. (gen)