Darmin bercerita pada awal penyusunan paket kebijakan sektor energi, ada usulan yang diterimanya dari dunia usaha untuk memberikan izin ekspor ore bisa diajukan kembali oleh eksportir apabila perusahaan telah menyelesaikan 30 persen pembangunan pabrik pemurnian (smelter) bauksit menjadi alumina.
Izin ekspor kembali tersebut dinilai mampu memperbaiki arus kas (cash flow) perusahaan tambang yang tengah lesu akibat jatuhnya harga komoditas dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi pas sebelum di launching, kami undang lagi stake holder. Mereka bilang jangan pak! Bapak tidak bisa mengizinkan itu, justru yang tidak punya smelter juga akan banyak ekspor," kata Darmin menirukan pendapat para pengusaha saat ditemui di kantornya, Jumat (18/9).
Darmin mengatakan dalam menyusun paket kebijakan deregulasi itu pemerintah saling berkoordinasi antar lembaga untuk menyelaraskan pendapat.
Pro dan kontra pun tak jarang harus dihadapi mantan Direktur Jenderal Pajak tersebut dan anak buahnya saat menselaraskan kebijakan kementerian dan lembaga di bawah garis koordinasinya.
Namun dalam memutuskan paket kebijakan deregulasi, pemerintah menurut Darmin memiliki saringan tersendiri sebelum kebijakan diterapkan. Meskipun hal tersebut akhirnya menimbulkan pertentangan.
“Kami punya saringan atau filter. Sekali dikeluarkan, kalau ada oposisi tidak akan berubah. Kecuali kalau mereka (oposisi) bisa memberikan bukti-bukti kalau pemerintah salah dalam mengambil kebijakan, tentu akan kami ubah," tegas Darmin. (gen)