Statistik BI menunjukkan perlambatan pertumbuhan utang luar negeri (ULN) terjadi pada sektor swasta maupun sektor publik, yang masing-masing posisinya sebesar US$169,2 miliar dan US$ 134,5 miliar.
Pada sektor swasta, penarikan ULN tumbuh sebesar 6,7 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya 9,7 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Departemen Statisik BI, Hendy Sulistyowati menjelaskan perlambatan penarikan ULN swasta yang lebih besar dipicu oleh perlambatan ekonomi nasional. Menurutnya, perlambatan ini sebagian besar disebabkan oleh menurunnya utang dagang yang mencerminkan melambatnya pembangunan.
Kendati melambat, Hendy mengatakan sebagian besar ULN yang ditarik swasta merupakan pinjaman jangka panjang, yakni sebesar 76,1 persen atau mencapai US$ 127 miliar.
Hal ini mengindikasikan bahwa utang-utang tersebut masih digunakan untuk modal produksi.
Lebih rinci Hendy menjelaskan, sebagian besar ULN swasta saat ini terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta, ungkapnya, mencapai 76,1 persen.
"Karena perannya yang sangat penting bagi perekonomian, ke depan kami juga akan terus memantau ULN swasta agar hal itu dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi," tutur Hendy. (ags)