“Terakhir, masih akan tingginya peningkatan stok minyak mentah terutama di AS, Jepang dan China pada saat harga minyak turun seperti saat ini," ujar Menteri ESDM Sudirman Said dikutip dari laman Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Senin (21/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Lebih baik menempuh angka yang realistis. Meski tidak ada yang bisa menebak harga minyak, namun US$ 50 per barel merupakan harga yang realistis untuk sekarang," ujar Sudirman.
Pemerintah dan DPR juga menyepakati diberikannya subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar tetap di angka Rp 1.000 per liter. Sementara volume BBM bersubsidi disepakati 16,69 juta kiloliter (kl), terdiri dari minyak tanah sebesar 0,69 juta kl dan solar 16 juta kl.
Volume Solar bersubsidi ini lebih rendah dari usulan Pemerintah sebesar 17,22 juta KL. DPR meminta Pemerintah meningkatkan pengawasan agar subsidi BBM tepat sasaran. “Jumlah penyelewengan penggunaan BBM bersubsidi saat ini relatif menurun karena disparitas yang kecil antara BBM subsidi dan non subsidi,” jelas Sudirman.
Selain itu, pemerintah dan DPR juga telah menyetujui volume subsidi elpiji ukuran tabung 3 kilogram (kg) sebesar 6,602 juta metrik ton. Angka ini meningkat dibandingkan 2015 yang ditetapkan sebesar 5,766 juta metrik ton.
Sudirman menjelaskan kenaikan ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu akan dibagikannya 1,128 juta paket perdana elpiji tabung 3 kg, pertumbuhan usaha mikro yang membutuhkan elpiji 3 kg sebesar 2,3 persen, pertumbuhan penduduk 1,49 persen, dan dibagikannya paket konversi untuk nelayan sebanyak 38 ribu paket. (gen)