Dono Boestami, Direktur Utama PT MRT Jakarta menjelaskan Antareja menggunakan teknologi berbasis Earth Pressure Balance (EPB) yang pertama kali digunakan di Indonesia. Ia menerangkan, Antareja memiliki diameter sekitar 6,7 meter dengan panjang 43 meter.
“Bobotnya mencapai 323 ton, mulai dari bagian kepala (cutterhead) hingga bagian akhir (backup cars). Antareja ini ini akan mampu melakukan pengeboran terowongan jalur bawah tanah MRT dengan kecepatan 8 meter per hari,” ujar Dono di Jakarta, Senin (21/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk tahap awal, Antareja akan digunakan untuk menggali terowongan MRT dari Patung Pemuda Senayan menuju Setiabudi. Mesin bor tersebut akan dioperasikan oleh kontraktor paket pekerjaan CP 104 dan CP 105 yaitu SOWJ joint venture yang terdiri dua perusahaan Jepang yaitu Shimizu dan Obayashi serta dua perusahaan nasional PT Wijaya Karya Tbk dan Jaya Konstruksi.
Sebagai informasi, saat ini penyelesaian proyek MRT Jakarta koridor Selatan-Utara Fase 1 (Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia) secara keseluruhan telah mencapai hampir 30 persen, dengan rincian untuk pengerjaan proyek pada struktur layang sudah menyelesaikan 18 persen dan struktur bawah tanah sebesar 43 persen sampai 31 Agustus 2015.
Pekerjaan konstruksi yang tengah dilakukan saat ini antara lain pekerjaan pembuatan pondasi kolom jalur dan stasiun layang, pekerjaan pembangunan stasiun bawah tanah, dan pekerjaan konstruksi depo MRT. Guna menggarap mega proyek transportasi MRT, dibutuhkan dana sekitar US$ 1,5 miliar. (gen)