“Pemerintah bikin terobosan, sudah pengusaha tidak usah mikir beli impor dengan dolar. Karena itu kita buat PLB, beli saja dari dalam negeri tidak usah beli impor,” ujar Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Edy Putra Irawady dalam perbincangan dengan CNN Indonesia di kantornya, Senin (21/9) kemarin.
Edy mengakui, bahwa pasokan migas di dalam negeri memang belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan industri. Oleh karena itu masih banyak transaksi impor migas dilakukan baik oleh pelaku industri langsung maupun oleh perusahaan migas nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat begitu banyaknya beban yang tidak relevan terhadap harga tersebut, membuat daya beli konsumen migas dan komoditas impor lain menjadi semakin rendah. Ditambah lagi, kewajiban harus melunasi tagihan pembelian dalam mata uang dolar Amerika Serikat membuat rupiah semakin terkapar.
“Tujuan utamanya sebenarnya mau me-replace ketergantungan kita terhadap negara lain, itu satu. Kedua, kita mengurangi transaksi dengan mata uang non rupiah. Daripada dia mengimpor pakai dolar, dia bisa beli dengan rupiah karena transaksinya di dalam negeri. Itu konsep dari PLB,” kata Eddy. (gen)