Tak hanya itu, ADB dalam Outlook-nya juga merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun depan dari 6 persen menjadi 5,4 persen.
“Tertundanya pemulihan ekonomi terutama diakibatkan oleh permintaan eksternal yang lebih lemah dari yang diperkirakan, dan karena volatilitas pasar keuangan,” ujar Steven Tabor, Direktur ADB untuk Indonesia melalui keterangan resmi, Selasa (22/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pendorong penting bagi pertumbuhan yang diharapkan adalah peningkatan belanja pemerintah yang sebelumnya sempat tertunda karena lambatnya penyaluran dana,” ujarnya.
Tabor juga menyoroti pentingnya reformasi kebijakan pemerintah guna menarik minat investor swasta menanamkan modal di Indonesia. Salah satu kebijakan positif yang mendapatkan apresiasi ADB adalah sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) bagi perizinan investasi, serta upaya pemerintah mendorong kemitraan dengan swasta di proyek-proyek infrastruktur.
“Reformasi kebijakan diperkirakan akan menstimulasi investasi swasta, meskipun pemulihannya telah terhambat sejumlah faktor seperti permintaan eksternal yang lemah,” jelasnya.
Sementara itu, Deputi Direktur ADB untuk Indonesia Edimon Ginting menilai, meskipun ada risiko dari ketidakpastian pasar keuangan dunia terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi ketahanan Indonesia terhadap volatilitas pasar kian membaik. Hal itu tercermin dari nilai tukar rupiah yang lebih fleksibel serta penyesuaian imbal hasil obligasi menurut nilai pasar.
Kendati demikian, Edimon mengingatkan adanya sejumlah risiko yang juga berasal dari dalam negeri. Antara lain adalah keterlambatan investasi infrastruktur, terhambatnya reformasi struktural, serta kondisi kekeringan akibat bencana alam El Nino.
Semua itu, kata Edimon diperhitungkan oleh ADB meskipun dia meyakini pemerintah siap untuk mengelola berbagai risiko tersebut. (ags)