Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan dibandingkan dengan posisi penutupan dari indeks di kawasan regional Asia, IHSG memang terlihat kuat. Namun ia menilai selain adanya sentimen dalam negeri, masih ada sentimen yang lebih besar, yaitu bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
“Memang sih nanti sore akan diumumkan Paket Kebijakan Ekonomi II. Akan tetapi, sentimen utama dari pergerakan IHSG untuk beberapa hari ke depan sepertinya memang masih berasal dari sentimen The Fed,” jelasnya dalam riset, dikutip Selasa (29/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mandiri Sekuritas mencatat, investor membukukan transaksi sebesar Rp 5,54 triliun terdiri dari transaksi reguler Rp 3,67 triliun dan transaksi negosiasi Rp 1,77 triliun. Di pasar reguler, investor asing membukukan transaksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 536 miliar.
Saham di sektor konsumsi yang paling terapresiasi adalah PT Gudang Garam Tbk (GGRM Rp 42.750, BUY) yang naik 5,56 persen dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR, Rp 38.000, BUY) yang terapresiasi 5,26 persen.
Di sektor aneka industri, saham yang paling menguat adalah PT Astra International Tbk (ASII, Rp 5.300) sebesar 2,42 persen dan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM, Rp 4.400) sebesar 1,85 persen.
Dari Asia, mayoritas indeks saham terkoreksi. Kondisi itu ditunjukkan oleh indeks Nikkei225 di Jepang yang turun sebesar 4,05 persen, indeks Straits Times yang melemah sebesar 0,14 persen, dan indeks Hang Seng di Hong Kong terkoreksi sebesar 2,97 persen.
Sore ini, mayoritas indeks saham di Eropa menguat. Indeks DAX di Jerman yang menguat 0,11 persen, dan CAC di Perancis yang terapresiasi 0,07 persen. Sementara indeks FTSE100 di Inggris turun 0,31 persen.
Sementara itu, di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah melemah sebesar 16 poin (0,11 persen) ke Rp 14.690 per dolar, setelah bergerak di kisaran Rp 14.666-Rp 14.828 per dolar. (gen)