Tercatat, pada penutupan sesi perdagangan Rabu (7/10) kemarin, rupiah menguat hingga 2,95 persen ke posisi Rp13.821 per dolar AS. Namun Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara menyebut kondisi rupiah tersebut masih di bawah nilai fundamental rupiah yang sebenarnya.
"Karena tetap saja walaupun sudah menguat dari Rp 14.700 ke Rp 13.800 itu kan masih undervalue yang masih cukup dalam juga. Jadi kami masih melihat kalau bisa untuk menguat lebih jauh itu kan akan lebih baik," ujar Mirza di gedung DPR, Jakarta, Rabu (7/10) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya kalau perbaikan ekonomi kita membaik, tingkat inflasinya membaik, defisit kita membaik, ya angka fundamentalnya rupiah itu bisa terus membaik," ujarnya.
Pada September lalu, menurut Mirza ekspektasi para pelaku pasar cukup banyak. Namun salah satu yang kuat adalah tentang kenaikan suku bunga acuan AS, sehingga pembelian dolar cukup besar di bulan September.
Namun, lanjut Mirza, pembelian dolar AS di bulan September itu juga membesar pada akhir kuartal II, yang disebabkan pemerintah dan swasta harus membayar utang valas.
"Jadi memang BI harus masuk untuk stabilisasi karena tugasnya BI ya stabilisasi. September juga BI masuk stabilisasi pasar SBN. Cadev kalo turun jumlah yang cukup besar ya dipakai stabilisasi demi stabilitas negeri ini lah, katanya.
"Tapi kan kalau dari sisi domestik sebenarnya membaik. Inflasinya sudah dengan angka deflasi di bulan September. Lalu untuk inflasi kita akhir tahun itu ya cuma 4 persen lebih dikit aja," jelasnya. (gir/gir)