Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro yang meneken PMK tersebut pada 6 Oktober 2015 menjelaskan perusahaan pelat merah yang dapat mengajukan permohonan jaminan dikelompokkan menjadi dua.
Pertama adalah BUMN yang melakukan kegiatan penyediaan infrastruktur melalui pinjaman langsung, terdiri dari tiga BUMN yaitu:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
2. BUMN yang sahamnya dimiliki pemerintah bersama BUMN lain yang 100 persen sahamnya dimiliki pemerintah.
3. BUMN yang tidak 100 persen sahamnya dimiliki pemerintah, namun mendapat penugasan khusus dari pemerintah untuk menyediakan infrastruktur berdasarkan peraturan presiden.
Kelompok berikutnya adalah perusahaan pembiayaan infrastruktur milik negara.
Namun, tidak semua proyek infrastruktur yang dikerjakan BUMN bisa memperoleh fasilitas tersebut. Bambang menetapkan beberapa ketentuan proyek yang berhak mendapat penjaminan, antara lain:
1. Ditetapkan oleh Komite Percepatan Pembangunan Infrastruktur Prioritas.
2. Ditetapkan oleh kementerian/lembaha pemerintah non kementerian.
3. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
4. Lembaga keuangan internasional telah menyatakan minatnya untuk memberikan pinjaman langsung kepada pemohon.
“Lalu, BUMN pemohon juga harus menyampaikan alasan tertulis mengapa diperlukannya jaminan pemerintah beserta salinan proyek infrastruktur, dokumen studi kelayakan yang lengkap, analisis keuangan yang sehat dan kemampuan membayar, surat pernyataan direksi, dan hal lainnya,” kata Bambang. (gen)