"Diprediksi IHSG akan bergerak menguat tertahan dengan range 4500-4650," ujar Lanjar Nafi, Analis Reliance Securites melalui riset hariannya, Senin (19/10) malam.
Lanjar menjadikan pergerakan variasi bursa Asia sehari sebelumnya sebagai acuan meramalkan potensi pasar hari ini. Volume perdagangan harian bursa saham Asia mengalami penurunan pada awal pekan ini di saat investor cenderung wait and see.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari dalam negeri, rentetan kebijakan pemerintah dinilai Lanjar berhasil terus menumbuhkan optimisme investor, di mana fokusnya pada pangan dan infrastruktur. Hal ini terlihat dari prilaku investor asing yang berbalik mencatatkan aksi berli bersih (net buy) sebesar Rp261,19 miliar pada perdagangan Senin.
Prediksi yang hampir sama juga dikemukakan Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia (NHKSI) Reza Priyambada, yang memperkirakan IHSG akan begerak pada rentang support 4525-4558 dan resisten 4578-4586.
"Kembali laju IHSG memperlihatkan posisinya yang bertahan di zona hijau di tengah terpaan pelemaha laju bursa saham lainnya," jelasnya melalui riset harian NHKSI.
Meski laju IHSG terlihat masih kuat di zona hijau, namun Reza mengingat agar pelaku pasar tetap perlu untuk mewaspadai risiko pelemahan.
Menurutnya, pelemahan laju Rupiah yang mulai terbatas memberikan ruang bagi pasar obligasi untuk dapat bergerak menguat. Akan tetapi, penguatan imbal hasil (yield) di sejumlah negara turut memberikan imbas negatifnya sehingga sebagian pelaku pasar masih melakukan aksi jual.
"Kondisi ini pun dapat membuat pasar obligasi dapat berjalan seiringan dengan pasar ekuitas yang mampu bertahan menguat," tuturnya.
Dari sisi nilai tukar, Reza melihat melemahnya sejumlah data ekonomi China memberikan imbas negatif pada laju mata uang Asia termasuk rupiah yang kemarin masih melanjutkan pelemahan.
"Mulai adanya pembalikan arah dikhawatirkan dapat memberikan peluang kembali terjadinya pelemahan (kurs). Pelaku pasar dimungkinkan akan kembali melepas rupiah dan kembali beralih ke dolar AS mengingat penurunan yang telah terjadi dalam beberapa hari terakhir," tuturnya.
Rupiah diprediksi akan diperdagangkan di bawah target support Rp13.550 per dolar AS.
(ags)