Kondisi tersebut membuat maskapai pelat merah hanya berhasil mengantongi pendapatan usaha US$ 2,84 miliar sepanjang Januari-September 2015, naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ US$ 2,83 miliar. Setelah dipotong biaya operasional, pajak, dan lain sebagainya Garuda membukukan laba bersih US$ 51,4 juta, dibandingkan kerugian yang diderita sampai kuartal III 2014 sebesar US$ 220,1 juta.
"Jadi sayang juga, harusnya net income kami bisa lebih besar dari US$ 51,4 juta," kata Arif Wibowo, Direktur Utama Garuda Indonesia di Jakarta, Jumat (23/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Penurunan beban usaha disebabkan oleh penurunan fuel dan kita cost efficiency di berbagai hal,“ ujarnya.
Akumulasi frekuensi penerbangan Grup Garuda Indonesia hingga kuartal III 2015 naik menjadi 186.105 penerbangan dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya, 165.642 penerbangan. Di samping itu, kapasitas produksi (availability seat kilometer/ ASK) tercatat sebesar 38,75 miliar naik dari 36,9 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara tingkat isian penumpang (seat load factor/SLF) tercatat sebesar 77,3 persen hingga September 2015 atau naik dibandingkan Januari-September 2014, 70,7 persen.
Kendati demikian, passanger yield turun 13,7 persen akibat depresiasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sekitar 12,1 persen dan turunnya tarif penerbangan internasional karena perekonomian global yang melambat.
Berdasarkan data perseroan, Grup Garuda Indonesia selama sembilan bulan terakhir telah meningkatkan pangsa pasar (market share) dari 37 persen menjadi 44 persen. Angka itu diklaim perseroan lebih tinggi dibandingkan market share Lion Group, 41 persen.