Ekonom DBS Gundy Cahyadi mengatakan nilai tukar rupiah masih bergantung pada sejumlah sentimen global. Gundy mengatakan ada tiga kebijakan ekonomi dunia yang diperkirakan mampu menentukan nasib rupiah.
Pertama kebijakan quantitative easing (QE) atau pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral Jepang dan bank sentral negara-negara Uni Eropa. Negara-negara tersebut mencetak uang lebih banyak guna mengangkat perekonomiannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat mencetak uang terlalu banyak, posisi nilai tukar yen dan euro terhadap dolar pun menjadi lemah. Dengan konfigurasi ini, peluang bagi mata uang emerging markets menguat cukup besar.
Dengan kata lain kebijakan QE ini relatif lebih menguntungkan posisi Indonesia. Bila situasi fundamental ekonomi dan politik Indonesia membaik, potensi penguatan nilai tukar rupiah lebih terbuka pasca kebijakan QE Jepang ini.
Yang kedua, lanjut Gundy, di sisi lain AS justru tengah menuju pengetatan kebijakan moneternya. AS berusaha menarik uang beredar dengan cara menaikkan suku bunga acuannya (Fed Rate) sehingga membuat portofolio investasi di AS menjadi lebih menarik bagi investor.
Kedua kebijakan tersebut diperkirakan muncul dalam kurun waktu yang sama.
Kebijakan ketiga yakni pelemahan mata uang (devaluasi) yuan China. Bank sentral China diyakini akan tetap melanjutkan kebijakan devaluasinya guna menggenjot nilai ekspor negaranya.
Kebijakan ini membuat nilai dolar menguat terhadap mata uang yuan dan rupiah.
"Faktor utama risiko ke depan, adalah rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar. Bukan karena pertumbuhan ekonomi Indonesia jelek, tapi ini karena isu global," katanya. (gen)