Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan kegembiraannya karena target untuk menggaet diversifikasi minat investasi asal AS bisa dipenuhi. Apalagi menurutnya, masih banyak lagi potensi investasi yang belum dilirik AS seperti infrastruktur dan maritim.
"Kami memang menargetkan diversifikasi jenis investasi asal AS dalam kunjungan kali ini mengingat 90 persen investasi asal negara tersebut di Indonesia berasal dari sektor pertambangan. Dengan adanya minat investasi ini, kami bisa bilang kalau target tersebut sudah bisa kami capai," ujar Franky melalui siaran pers, dikutip Rabu (28/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan minat-minat investasi yang masuk selama kunjungan di AS adalah perluasan investasi milik Coca Cola senilai US$ 500 juta, penambahan belanja modal Philip Morris senilai US$ 500 juta, perluasan investasi Cargil sebesar US$ 750 juta, dan pembangunan remanufacturing facility milik Caterpillar sebesar US$ 12 juta.
Lebih lanjut, Franky mengatakan kalau minat sebesar US$ 2,4 miliar ini merupakan bagian dari 18 kesepakatan bisnis senilai US$ 20 miliar yang terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) AS di Indonesia, investasi Indonesia di AS sebesar US$ 175 juta, serta kerjasama beberapa proyek antara entitas usaha AS dengan perusahaan-perusahaan Indonesia sebanyak US$ 16,06 miliar.
Sebagai informasi, realisasi investasi asal Amerika Serikat antara Januari hingga September 2015 tercatat sebesar US$ 853,71 juta, atau menurun 11,6 persen dari angka US$ 965,9 juta di periode yang sama tahun sebelumnya. Investasi Amerika Serikat tersebut, berkontribusi sebesar 4,0 persen dari total Penanaman Modal Asing sebesar US$ 21,33 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2015. (gen)